Sekadar Uneg-Uneg di Jalanan Jogja

Oleh

|

|

Waktu Baca: 3 menit

Menurut saya, jalan adalah super-random public space. Tempat paling random berkumpulnya orang-orang. Selain jalan tidak ada yang se-random itu. Alun-alun kota misal, walau random juga tapi bisa diprediksilah. Orang seperti apa yang akan disana di hari-hari atau jam tertentu. Kalau malam minggu, ya yang ke alun-alun kota bisa jadi pasangan muda-mudi yang sedang cari spot berduaan dan murah. Mall, beda tempat saja bisa kelihatan kok kira-kira siapa saja yang disana. Mall mahal, tentu orangnya juga mahal. Hampir semua jenis tempat bisa diperkirakan siapa pengunjungnya kecuali jalan.

Jogja, secara umum, behavior pengguna jalannya bagus. Kalau sedang ke kota metropolitan lain, tak sedikit yang berhenti setelah garis di lampu merah. Atau terbiasa mengklakson ketika lampu hijau baru menyala. Walau tak dipungkiri, tetap saja sering terjadi kecelakaan di Jogja. Lihat saja timeline Merapi Uncover.

Tiga hal yang saya resahkan di jalan Jogja adalah :

Merokok/Vape di Jalan

Ini keresahan banyak orang, terutama yang bawa anak-anak di jalan. Sangat menyebalkan. Tidak semua perokok adalah bebal, tapi yang merokok di jalan kemungkinan besar bebal. Baik yang naik mobil atapun naik motor. Karena, ayolah, kalau anda memang ditakdirkan untuk menjadi perokok, terimalah konsekuensinya. Bahwa anda harus berada di ruang-ruang tertentu yang boleh merokok. Rokok yang anda hisap dan asapnya kemana-mana itu menjadi racun untuk orang lain. Belum lagi bara apinya yang terkadang sampai terkena mata.

Nah suatu saat, posisi saat itu di lampu merah UPN. Dia naik motor berada di depan saya dengan rokok di tangan. Asapnya ke arah saya dan anak. Saya tegur, “mas, kalau rokok berhenti aja mas! Jangan merokok di jalan, kasihan ada anak kecil!”. Seperti biasa, dia malah nyolot dan menyalahkan, “Salah sendiri ngga pake mobil mas, ya jadi anaknya kena asap rokok. Helmnya juga ditutup, biar ngga kena bara api rokok.”. Saya sebal, lalu saya tonjok wajahnya. Dia kebingungan, “Loh kok kasar sampeyan”. Saya jawab, “Salah sendiri ngga menghindar!”. Lalu saya pergi pas lampu hijau. Biar dia makan argumennya sendiri.

Tapi semua adegan di atas hanya terjadi di kepala saya saja. Saya ngga pernah dan malas negur mereka, mending menghindar.

Lawan Arah Ketika Menunggu di Perlintasan Kereta Api

Sebagaimana saya sampaikan di awal, bahwa Jogja memiliki civic mindedness (semacam kesadaran publik) yang cenderung lebih daripada warga kota lain. Warga Jogja berhenti tepat di garis ketika lampu merah, tidak keburu klakson ketika baru lampu hijau, dll. Kalau toh ada yang merokok di jalan, lawan arah, atau pelanggaran kecil lain itu ya sedikit dan wajar.

Tapi tetap saja, sebagian warga Jogja juga tetap menumpuk di lajur kanan perlintasan kereta api. Ini terjadi hampir di semua daerah. Mereka tidak mau antri di lajur kiri belakang dan memilih menempatkan diri di lajur kanan yang kosong. Akibatnya ketika perlintasan dibuka, terjadi gridlock di area tengah dan ini menyebabkan kemacetan yang lebih parah.

Beberapa Perempuan, Memegang Stang Motor dengan Salah

Terakhir keresahan yang baru muncul adalah soal memegang stang motor. Akhir-akhir ini saya perhatikan, beberapa perempuan memegang motor dengan terbalik. Stang yang seharusnya dipegang dengan punggun tangan menghadap ke atas, ini kebalik. Jadi dia menggenggam dari bawah. Awalnya saya pikir, oh mungkin bagi cewek nyamannya gitu. Ternyata tidak, mereka melakukan itu karena khawatir panas menyengat sinar matahari mengenai punggung tangannya. Sehingga memegang stang motor dengan dibalik.

Saya khawatir soal keamanan sebenarnya, karena memegang stang motor dengan dibalik tentu saja membuat kualitas grip jadi berkurang. Rentan untuk tidak seimbang dan menstabilkan kemudi. Khawatir malah membahayakan dirinya dan juga pengguna jalan lain.

Ya itu deh, tiga hal yang saya amati dan resahkan soal pengguna jalan di Jogja. Saya sampaikan barangkali pembaca menemui uneg-uneg yang sama ketika di Jogja. Toh namanya super-random-public-space tentu yang dihadapi juga bermacam-macam. Ada yang arogan di jalan, ada yang pakai pengawal, ada yang knalpot brong dsb. Mau tak mau ya bersabar dengan hal-hal yang memang tidak sesuai dengan eskpektasi kita. Sebisa mungkin menghindar atau tidak menjadi sumber keresahan bagi orang lain. Sekian.

Bagikan post ini :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kolom Pencarian

Post Terbaru

Arsip Blog

Berlangganan via E-Mail