Tentang Nama Anak

Oleh

|

|

Waktu Baca: 3 menit

What’s in a name? That which we call a rose, by any other name would smell as sweet” – Apalah arti sebuah nama? Sesuatu yang kita namakan mawar, dengan nama apapun tetaplah harum. Itu kata William Shakespeare dalam “Romeo and Juliet”. Begitulah menurut Shakespeare, nama ya cuma nama, terlepas dari esensinya. Namun dalam Islam, nama adalah doa. Ia tak sekedar penyebutan, tapi teriring doa untuk yang memiliki nama tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

 ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺪْﻋَﻮْﻥَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺑِﺄَﺳْﻤَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺳْﻤَﺎﺀِ ﺁﺑَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀَﻛُﻢْ

“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” (HR. Abu Daud)

Nama putra pertama kami adalah Fayyad Nuruddin Zanki. Fayyad sebenarnya diambil dari (فياض) yang berarti keberlimpahan, abundance. Karena menurut kami, keberlimpahan hadir di keluarga kami sebelum dan setelah kelahiran putra pertama kami. Selain itu karena saya berawalan huruf E, dan istri huruf D, urutan berikutnya untuk anak pertama kami adalah F. Biar gampang, 😂

Nuruddin Zanki, diambil dari nama tokoh dari Daulah Zankiyah (Zengi/Zengid), Nuruddin Mahmud Zanki. Zankiyah sendiri adalah Daulah Islam yang berkuasa di daerah Syiria di bawah Daulah Seljuk. Dia adalah putra kedua dari Imaduddin Zanki, pendiri dari Daulah ini. Saya mengenal nama ini ketika membaca sebuah buku “Bangkit dan Runtuhnya Daulah Zankiyah”. Dan salah satu yang saya baca dari beliau adalah kesan beliau sebagai pemimpin yang sholeh. Bahkan dikatakan bahwa beliau adalah pemimpin muslim yang adil selepas Umar bin Abdul Aziz. Kesan lain dari beliau adalah sabar, tidak terburu-buru, bergerak dalam ketenangan namun taktis. Prestasi militernya juga banyak, salah satunya adalah kontribusi beliau dalam perang Salib II. Sama dengan pemimpin muslim lain, beliau juga bercita-cita membebaskan al-Quds kala itu. Beliau bahkan membuat mimbar untuk diletakkan di al-Quds dan baru terwujud 13 tahun sepeninggal beliau, oleh Shalahuddin al-Ayyubi.

Mengapa menggunakan nama tokoh untuk nama anak? Sederhananya, agar anak mudah mengambil inspirasi. Beberapa kawan dan ustadz yang saya kenal juga tidak sedikit melakukan ini. Ada yang menamakan anaknya nama nabi, pemimpin muslim, ulama’, cendekiawan, dll. Toh juga Nuruddin sendiri secara arti adalah cahaya agama. Merupakan doa juga agar jadi lentara penuntun umat.

Nama anak kedua kami -walau belum resmi karena belum buat KK- adalah Ghiyats Fakhruddin Arrazi. Agak panjang, ketika memberi nama, saya hitung-hitung juga karakternya. Saya khawatir kalau terlalu panjang akan menyulitkan anak. Apalagi saya teringat masa-masa mengisi LJK Ujian Nasional yang harus melingkari satu-satu huruf per huruf yang ada di kotak nama. Kalau namanya panjang, wah bakal memakan waktu bahkan untuk menulis nama saja. 🤣 Padahal hari ini sudah tidak pakai model LJK lingkar-lingkar.

Nah sesuai urutan huruf, namanya berawal dari huruf G. Berikutnya Ghiyats dari bahasa Arab (غياث) akar kata yang sama untuk kata istighotsah. Artinya adalah bantuan atau pertolongan. Mengingat tempat lahir anak kedua kami adalah di rumah, literally di rumah. Jadi putra kedua kami lahir dengan banyak pertolongan warga sekitar. Mungkin saya akan cerita lain kali.

Adapun Fakhruddin Arrazi, adalah nama tokoh cendekiawan Islam dari Iran. Namanya cukup tenar bahkan dijuluki dengan Sultanul Mutakallimin atau pemimpin para ahli kalam (teolog). Beliau merupakan polimatik, menulis berbagai karya di bidang farmasi, kimia, fisika, astronomi, kosmologi, literatur, teologi, ontologi, filsafat, sejarah dan fikih.

Walaupun sebenarnya yang mengganjal adalah double huruf dalam nama. Terkadang nama seperti Fakhruddin (double d) ini harus dijelaskan ketika memperkenalkan diri kepada orang terutama yang bersifat administratif. Saya sendiri sempat terpikir ketika punya anak menghindari yang demikian. Tapi ternyata tidak terhindarkan karena mengejar maslahat 😂

Maka doa untuk kedua anak kami sesuai dengan namanya, harapannya salah satu menjadi pemimpin dan salah satunya lagi menjadi ulama (cendekiawan). Tentu tidak cukup dengan memberi nama, tapi juga usaha sebaik mungkin dari keluarga untuk mewujudkan hal tersebut. Sekaligus, kami memohon juga doa, dari pembaca sekalian agar anak-anak kita menjadi generasi penerus yang lebih baik untuk umat ke depannya.Jazakumullah khairan.

Bagikan post ini :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kolom Pencarian

Post Terbaru

Arsip Blog

Berlangganan via E-Mail