Mari kita lanjutkan series tulisan The Anxious Generation, setelah sekian lama hiatus. Saya mohon maaf beberapa waktu ini belum aktif blog lagi karena setelah lahiran putra kedua perlu mengatur kembali ritme aktivitas. Untungnya, ini sudah selesai UAS Perkuliahan dan juga murid-murid saya sedang magang. Jadi ada space yang cukup untuk kembali menulis, walaupun seharusnya tetap menulis di setiap ada kesempatan.
Tentang seri ini, kita telah membahas Safetyism dan Paranoid Parenting. Keduanya tidak jauh beda dan sebenarnya keduanya bisa bernuansa positif. Safetyism mengharapkan anak selalu selamat dan terhindar dari bahaya. Paranoid Parenting juga bermula dari keinginan orang tua yang berharap agar anaknya selalu tumbuh sesuai dengan rekomendasi para ahli. Namun karena tidak diiringi pemahaman yang menyeluruh baik, suasana atau harapan yang tadinya positif berdampak pada hal yang kurang baik pada anak.
Salah satunya adalah muncul rasa ketidakpercayaan kepada anak. Alih-alih memberi ruang bagi anak untuk eksplor -dimana masanya memang eksplor- orang tua merasa “aman” kalau anaknya di rumah aja. Jonathan Haidt juga menceritakan di buku ‘Generasi Cemas’ beberapa kasus dimana beberapa orang di AS melaporkan ke polisi ketika ada anak usia 8-9 tahun berkeliaran di sekitaran rumahnya tanpa pendampingan. Dan laporan yang disampaikan adalah ‘abandoning‘ atau penelantaran. Padahal orang tua si anak yang sedang bermain tidak menelantarkan, hanya mengizinkan anaknya eksplor di sekitar rumah. Usia 8-9 tahun sudah cukup untuk tahu mana rumahnya dan kapan harus pulang.
Berkat kasus-kasus semacam di atas, dan alasan-alasan lain seperti banyak penculikan anak -walau belum pasti-, bullying, bahaya sekitar rumah dan lain-lain. Akhirnya orang tua lebih aman dan lebih nyaman meminta anak untuk PFH (Play from Home). Anak yang mungkin ingin eksplor di luar rumah, dirumahkan. Tetap di rumah, jangan keluar, cari permainan yang bisa dilakukan di dalam rumah.
No Exploration, No Life
Disinilah muncul masalah baru. Orang tua yang tadinya menginginkan anak terhindar dari masalah fisik seperti ‘bahaya lingkungan, penculikan, jatuh, dll’. Ironisnya malah mendatangkan masalah baru yang bersifat psikologis. Anak-anak yang seharusnya mendapatkan ruang untuk eksplorasi, mencari stimulasi, dan belajar dari lingkungan kini terkungkung di dalam rumah. Akhirnya kesulitan sekali untuk mengembangkan diri.
Orang tua pun juga merasakan hal ini. Alih-alih membuka ruang bermain atau setidaknya ikut menemani. Orang tua malah memberikan stimulasi praktis yaitu video games. Video games disini seperti Playstation, Nintendo, dll. Walau memang hari ini penggunaan video games tidak semasif dulu. Hari ini device nya sedikit berbeda, bahaya juga lebih besar, yaitu Smartphone.
Saya juga izin bercerita pengalaman pribadi. Ketika kami sedang kontrol kehamilan putra kedua anak kami di RSKIA. Kami mendapati satu keluarga dengan anak laki-laki usia sekitar 5-6 tahun dan bayi usia sekitar 1 tahun. Mungkin hendak kontrol anak keduanya, atau entahlah. Yang jelas mereka sedang menunggu di ruang tunggu yang sama dengan kami (ruang tunggu ibu hamil dan klinik anak sama). Kemudian ayah bermain HP, ibu menggendong anak kedua sambil bermain HP, dan anak laki-laki juga pegang HP. Asumsi saya, berarti si anak tersebut diberikan HP sendiri (mengingat ketiganya masing-masing memegang HP). Anak laki-laki terlihat sangat fokus menonton sesuatu dan apapun yang terjadi di sekitarnya seolah abai. Ketika mereka waktunya dipanggil, ayah dan ibu bahkan sampai harus menyeret atau memaksa mengambil HP dari si anak agar ikut masuk ke ruangan dokter anak bersama mereka. Situasi ini saya dapati cukup menjadikan pelajaran bagi saya yang sudah menyelesaikan buku The Anxious Generation.
Apa yang terjadi di depan mata saya juga bisa terjadi di depan mata pembaca? Bahkan boleh jadi anak-anak kita, atau diantara keluarga besar kita, tetangga kita, dsb. HP hari ini harganya cukup murah, satu kali gaji UMR mungkin sudah cukup untuk membeli HP yang bisa digunakan untuk diberikan ke anak-anak. Bagi orang tua yang sudah aware tentang ini mungkin paham bahwa tak sebaiknya anak diberikan screen time. Tapi bahkan saya dan keluarga yang aware saja harus kesulitan manakala anak ikut menonton saat kita sedang bekerja atau bahkan sedang menikmati tontonan. Apalagi untuk orang tua yang tidak aware?
Paadahal banyak dampak buruk yang dihasilkan dari screentime yang berlebihan kepada anak-anak. Diantaranya adalah risiko kecemasan dan depresi yang justru meningkat. Defisit keterampilan sosial (negosiasi, kerja sama, resolusi konflik) yang hanya bisa dipelajari saat bermain dengan teman sebaya tanpa intervensi orang dewasa. Serta Hambatan perkembangan motorik dan kemampuan menilai risiko. Ini akan dibahas lebih lanjut di post selanjutnya.
Terakhir, saya juga cerita pengalaman lagi. Anak pertama saya, usia sekitar hampir dua tahun, pernah kami ajak menonton kereta api sungguhan. Dia senang dan bisa mengatakan ‘kereta, kereta’. Kami membelikan poster dan buku yang ada keretanya, serta mainan kereta. Namun kami juga sempat memberikan tontonan kereta lewat Youtube. Anak saya menonton lewat monitor dengan jarak yang cukup jauh. Tapi itu saja sudah cukup membuat dia ketagihan. Dari eksperimen atau setidaknya pengalaman kami. Ketika satu pekan anak kami sering menonton dalam frekuensi sekali sehari, dia cenderung rewel, banyak tantrum. Tapi ketika kami delay hingga frekuensi sepekan sekali. Ia menjadi lebih ceria dan bahagia. Sekarang kami sering menunda bahkan kalau bisa hingga sebulan sekali.
Kesimpulannya, saya sepakat dengan Haidt, ternyata screentime semacam meningkatkan stres bagi anak. Walau keinginan sehari-hari yang tidak dituruti dapat memicu stres seperti mainan sesuatu yang berbahaya, bermain di area dapur, dan lain-lain. Tapi itu semua tidak separah atau sesering ketika screentime terlalu lama. Dan inilah yang membuat kami mengurangi -bahkan inginnya menghilangkan- screentime pada anak kami.





Leave a Reply