Suatu ketika, tahun 2021-an, saya mendapat tawaran untuk membuat logo salah satu salon di Jogja. Tawaran tersebut berasal dari seorang kenalan di tempat kerja. Tak heran, saat itu saya sedang bekerja sebagai Manajer Tim Kreatif di salah satu perusahaan Digital Marketing di Jogja. Mengingat dulu pernah menjadi desainer grafis, jadi teman merekomendasikan saya. Tapi sebagai manajer, saya merasa tidak ada waktu untuk menerima job tambahan ini. Tapi karena tertarik dengan benefit dan tantangannya saya terima. Kemudian calon klien bertanya tentang harga. Berapa harga jasa desain logo saya?
Saya sendiri tidak banyak riwayat desain logo profesional. Saya hanya punya portofolio desain logo amatir yang saya buat ketika agenda-agenda atau kepanitian kampus. Itupun kebanyakan generik, jauh dari kesan logo bagus, elegan, dan keren. Sadar diri. Saya berani menerima job ya karena tantangan. Pertanyaannya, berapa harga jasa desain saya? Nah saya ingat waktu itu saya melakukan CBA singkat (Cost-Benefit Analysis). Nah tujaun dari tulisan ini untuk menceritakan tentang pengalaman melakukan CBA dan penjelasan tentang CBA itu sendiri.
Apa itu CBA (Cost-Benefit Analysis)?
CBA secara umum adalah suatu metode sistematis untuk menilai proyek atau keputusan dengan membandingkan total biaya yang dikeluarkan (cost) dengan total manfaat yang diharapkan (benefit). Keduanya tidak harus berwujud (moneter) tapi juga boleh tidak berwujud (seperti kepuasan pelanggan). Tujuannya adalah untuk menentukan apakah suatu keputusan layak menguntungkan untuk dilaksanakan.
Beberapa sumber mengatakan bahwa metode ini pertama kali digagas secara formal pada tahun 1848 oleh Jules Dupuit. Ia adalah seorang insinyur dan ekonom Prancis. Dalam publikasi berjudul “De la mesure de l’utilité des travaux publics” (On the Measurement of the Utility of Public Works), Dupuit memperkenalkan konsep utilitas marjinal untuk mengevaluasi efisiensi proyek infrastruktur publik. Kurang lebih Dupuit-lah yang memberikan gagasan kepada Pemerintah agar tidak menilai benefit dari uang yang masuk saja.
Sampai saat ini, CBA sering digunakan untuk audit suatu proyek publik, keuangan, akuntan, perusahaan, dll. .
Harga Waktu Kita
Maka penting untuk mengetahui harga waktu kita per jam-nya atau per-detiknya. Dan untuk melakukan ini ada dua pendekatan. Pertama adalah gaji dibagi jam kerja (Hourly Wage) dan yang kedua yang saya usulkan adalah semua pemasukan dibagi jam sadar (Conscious Time Valuation). Pendekatan pertama sudah cukup umum dalam dunia ekonomi klasik bahkan sejak era revolusi industri kedua. Namun pendekatan kedua ini saya yang usulkan mengingat sebenarnya harga waktu kita tidak sekadar dari lama jam kerja, tapi saat sadar pun seharusnya ada sesuatu yang membuat waktu kita bernilai.
Namun saat saya sedang menghitung harga untuk jasa desain logo klien, saya masih menggunakan pendekatan pertama. Gaji sebagai manajer dibagi jam kerja selama satu bulan, waktu itu dapat sekitar Rp. 16.000/jam. Kemudian berapa lama saya mengerjakan desain? Berdasarkan brief proyek sebenarnya tidak terlalu terburu yaitu sekitar dua pekan. Kalau proyek saya kerjakan dalam waktu 2 jam sehari selama 7 hari + 2 hari (termasuk revisi) maka dapat harga sekitar Rp. 300.000 untuk proyek ini. Nah begitulah akhirnya saya pasang tarif untuk harga jasa desain logo saya.
Tapi ada satu pendekatan baru yang saya usulkan dan saya hitung sendiri, yaitu Conscious TIme Valuation atau Harga Waktu Sadar kita. Di era serba media sosial, sangat mudah seseorang jatuh ke lubang ketidakproduktifan. Ya termasuk saya. Sekali rebahan, scroll, ternyata bisa sampai 1 jam tanpa sadar. Maka kita perlu hitung nilai jam sadar kita biar kita tahu berapa waktu yang sudah kita buang ketika kita tidak memanfaatkan waktu tersebut dengan baik. Ini saya hitung dengan menjumlahkan semua pemasukan dibagi jam sadar umumnya kita yaitu 15-16 jam sehari. Kalau gaji seseorang 3 juta per bulan misal, tambah pemasukan lain 1 juta, dibagi jam sadar selama 1 bulan. Hasilnya adalah sekitar Rp. 8.900 atau anggap saja Rp. 9.000 per jam. Artinya jika ada 1 jam menganggur atau kurang dimanfaatkan dengan baik maka telah membuang Rp. 9.000 per jam.

Investasi Belajar, Investasi Keluarga
Tapi tentu saja, harga waktu terlalu murah kalau cuma gaji dibagi jam sadar. Mengingat, banyak sekali aktivitas-aktivitas yang sebenarnya tidak ternominalkan. Bermain bersama keluarga, mendidik anak, atau belajar. Walau tidak bernominal tapi tentu saja itu sangat berharga. Nah, mengingat otak kita cenderung menilai hal-hal secara nominal maka bagaimana cara menghitung harga aktivitas-aktivitas tersebut?
Nah disinilah kita bisa menerapkan NPV (Net Profit Value) of Future Earnings. Ini adalah metode perhitungan keuangan untuk mengetahui berapa nilai uang yang akan diterima di masa depan jika dirupiahkan saat ini. Dasar dari prinsip ini adalah Time Value of Money sebagaimana yang dibahas dalam tulisan ini. Bahwa setiap detik yang kita kerjakan atau tidak kita kerjakan saat ini ada harganya.
Sebenarnya ada rumusnya, namun kalau ditampilkan malah terlihat rumit. Tapi mari kita sederhanakan begini. Ketika kita mempelajari sesuatu, tentu saja apa yang kita pelajari akan memberikan manfaat bagi kita. Pertanyaannya, bagaimana mengukur manfaatnya? Kita bisa menggunakan Future Earnings untuk pekerjaan tersebut = berapa gaji yang didapatkan jika kita menguasai kemampuan tersebut? Misal kita belajar web developer, gaji yang didapat sebagai web developer adalah 4 juta per bulan atau 48 juta per tahun. Biaya real yang kita keluarkan untuk belajar web developer selama satu tahun adalah 6 juta. Maka bisa kita lakukan perhitungan :

Andai kita belajar 2 jam sehari selama weekdays maka didapatkan jam belajar setahun adalah 520 jam. Rp. 48 juta (gaji yang kita didapatkan ketika mempelajari web dev selama 1 tahun) dikurangi dengan biaya belajarnya Rp. 6 juta. Kemudian dibagi jam belajar. Didapatkan hasil Rp. 80.000,- per jam. Sehingga waktu yang kita investasikan ketika kita belajar web dev adalah Rp. 80.000,-. Inipun belum dihitung compound effect (efek berkelanjutan) dari kemampuan kita sebagai web dev.
Kesimpulan
Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menyadarkan kita bahwa setiap detik sangatlah berharga. Merasa suatu aktivitas kurang bermanfaat dari yang lain bisa diperhitungkan. Kalau ada yang merasa lebih baik bekerja daripada belajar, maka sebenarnya bisa diperhitungkan. Pun juga aktivitas yang lain. Bahkan aktivitas ibadah pun juga, walaupun intangible tentu saja, tapi benefitnya untuk hari yang kita semua pasti akan menjalaninya, yakni hari akhir.





Leave a Reply